Jumat, 20 Agustus 2010

PENGETAHUAN SEJATI

Qul huwa’llahu ahad, Allahu’s-Samad
Katakanlah: Dia Allah, Satu. Allah, Tempat Bergantung semua makhluk.
Pemahaman Tawhid
Di luar Al-Fatihah ayat-ayat dari Surat Al Ikhlas di atas boleh jadi merupakan ayat di dalam Al Qur’an yang paling sering dibaca dan diulang-ulang. Nabi Muhammmad, salallahu alaihi wassalam (saw), menyatakan bahwa sepertiga bagian dari Qur’an diperuntukkan bagi tawhid – pengetahuan tentang keesaan – dan bahwa seluruh tawhid terkandung dalam Surat Al-Ikhlas, yang sebagian telah dikutip pada permulaan tulisan ini. Ilmu tawhid merupakan unsur inti semua wahyu ilahi. Inilah yang dibawa oleh semua nabi kepada umat mereka masing-masing. Kemampuan untuk memahaminya menjadi ciri pembeda manusia dari semua makhluk lain.
Katakanlah: Dia Allah, Satu. Ada dua kata dalam bahasa Arab yang mengacu pada makna “satu”: ahad dan wahid. Wahid merupakan satu bilangan aritmatika, satu sebagai angka pertama dalam barisan bilangan, satu yang berlanjut menjadi dua, tiga, empat dan seterusnya. Satu sebagai lawan dari semua lambang bilangan. Sehingga Allah berkali-kali berfirman dalam Qur’an, Ilahukum ilahun wahid (Tuhanmu ialah Tuhan yang Satu) sebagai lawan dari dua atau lebih tuhan.
Tetapi, makna satu yang diungkapkan dengan ahad tidak seperti itu. Kata ahad menunjukkan arti sejenis kesatuan yang mengakui tidak adanya kemunginkan yang lain bersamanya. Dengan satu pada ahad tidak terdapat kemungkinan keduaan. Inilah “ketunggalan mutlak” dari pakar fisika atom yang menghalangi kemungkinan eksistensi apa pun yang lain bersamanya. Hal ini menunjukkan kesatuan mutlak, yang tidak dapat disisipi, bersifat transenden, dan tidak terdekati dari Allah, yang tidak ada apa pun yang lain yang menyerikatinya (berasosiasi) dengan cara apa pun.
Jika Allah berhenti di sini sudah tidak akan ada peluang bagi eksistensi apa pun yang bukan Dia dalam esensinya yang sangat halus dan tidak dapat diketahui. Tetapi Dia membuka pintu bagi segala kekayaan tanpa batas dalam kekuasaan kreatif-Nya dengan firmannya, Allahu’s-Shamad. Nama as-Shamad sangat sulit diterjemahkan dengan tepat. Dengan kata ini menunjukkan bahwa Ketunggalan Mutlak yang transenden yang membuat segalanya ada dan menyediakan dukungan dan pelestarian kepada semua itu di setiap waktu, bahwa pada-Nya semua eksistensi sepenuhnya dan secara terus-menerus bergantung, agar bisa tetap ada.
Kita akan sulit untuk memahaminya, mengasimilasi secara pasti apa yang dimaksudkannya, dan memahami implikasinya bagi kita sebagai manusia yang duduk di ruangan ini, kalau hanya dikemukakan dengan cara ini. Tetapi di dalam seluruh lembaran Kitab-Nya, Allah memberi kita aneka contoh, menunjuki kita pelbagai cara, jauh dari konsep intelektual yang mengawang; ketunggalan-Nya diperlihatkan kepada kita di setiap saat. Dia membuat jelas bagi kita bahwa Dia terlibat langsung di dalam semua yang terjadi di dunia ini. Dia mengirim air hujan dari langit, Dia menumbuhkan tetanaman dari bumi, Dia membentuk diri kita dan mengeluarkan kita dari rahim ibu kita, Dia menahan burung-burung di udara. Segala yang terjadi, semua yang kita lakukan, disebabkan langsung oleh-Nya. Tidak ada kehidupan, tidak ada kekuatan kecuali oleh-Nya. Hal ini jelas tersurat dalam ayat-ayat Qur’an. Dengan cara inilah eksistensi berlangsung. Inilah inti ajaran Dien Allah. Hanya ada satu yang terjadi dalam eksistensi dan itulah Perbuatan Allah pada segenap tempat pada setiap saat.
Ada bahaya yang mengancam baik bagi kaum Muslim dan non-Muslim untuk melabeli gambaran di atas sebagai “konsep Islami tentang ketunggalan” atau yang semacam itu. Qur’an merupakan gambaran Eksistensi sebagaimana adanya. Tidak ada dua realitas, yang ada hanya satu dan ini sama untuk semua manusia. Pemahaman tentang eksistensi inilah yang menjadi inti sejati semua agama dan tradisi-tradisi filosofis yang benar – yang selalu sekaligus menjadi titik awal dan tujuan pengetahuan manusia.
Penulis merasa sangat yakin bahwa semua manusia nyaris secara lengkap telah terputus dari akses atas pemahaman akan eksistensi semacam ini. Manusia saat ini berada pada titik sejarah mereka, sementara mereka memiliki segalanya sambil pada saat yang sama telah kehilangan kapasitas untuk memahami tawhid dengan cara yang benar, meskipun sebetulnya kita mempunyai kapasitas untuk memahami Ketunggalan Ilahi yang membuat seorang manusia menjadi manusia dalam arti yang sesunguhnya. Dengan kata lain, apa yang ingin penulis katakan ialah bahwa semua maksud dan tujuan manusia telah kehilangan kontak dengan hakikat yang memberi mereka tujuan dan pemenuhan diri sebagai manusia.
Jauh dari evolusi menjadi spesies yang lebih tinggi, kita sebagai manusia telah mengalami devolusi sampai pada titik yang membuat kita sedang tergelincir atau telah tergelincir dari sesuatu pegangan pokok yang membuat kita adalah manusia. Penulis menyadari bahwa pernyataan ini agak ekstrim tetapi penulis akan mencoba untuk memperlihatkan bagaimana status yang menghkawatirkan ini telah menjelma dan, Insya Allah, menunjukkan satu jalan untuk lepas darinya.
Pencerahan: Pudarnya Kebenaran Ilahi
Pertama-tama, perlu dikatakan bahwa, meski sejak semula sudah mengandung cacat fatal dalam pemikiran teologi Kristiani, dasar perspektif intelektual Eropa, sebagian terjadi dalam regenerasinya akibat pengenalan gagasan-gagasan metafisika Yunani di abad ke-tiga, dan sebagian lagi melalui pengandalan pada pengetahuan berdasar wahyu, mencerminkan cara pandang eksistensi Unitarian (keesaan, peny.) yang telah kami jelaskan garis besarnya di atas, yang berlanjut terus menjadi apa yang kita kenal sebagai Abad Pertengahan. Tradisi klasik filosofi Yunani Kuno diharmonisasikan dengan pengetahuan yang didapat sedikit dari Kitab Injil menjadi sebuah sintesis yang dikenal dengan nama aliran pemikiran scholasticism, dengan satu eksponen terbesarnya adalah Thomas Aquinas.
Menurut pemikiran skolastik semua benda berasal dari Tuhan; dan Tuhan bukan hanya menjadi dasar dari keberadaan mereka tetapi juga Kebaikan tertinggi yang dengan-Nya semua hendak disatukan kembali. Tuhan menciptakan dunia ini agar Dia mampu mengenal Diri dengan lebih lengkap. Tuhan tidak hanya menciptakan tetapi secara terus-menerus melestarikan dan menata-praja (govern) dunia baik secara langsung dengan hukum-hukum abadi maupun secara tidak langsung melalui kekuatan para malaikat. Pada semua makhluk Dia telah memberikan satu “fitrah” atau “bentuk” dalam kebajikan yang mereka perlukan agar mereka dapat menjadi seperti mereka dan mencari apa yang sesuai untuk mereka. Manusia berbeda dari makhluk lain karena dialah satu-satunya yang memiliki ambisi spiritual untuk mengetahui Tuhan dan di sinilah terletak satu-satunya pemenuhan diri, tetapi dia juga dapat baik memilih maupun mengingkari peluang agung ini. Manusia menurut fitrahnya yang paling dasar berorientasi pada dunia adikodrati (supernatural); dia diciptakan untuk memiliki pengetahuan tentang Tuhan.
Dari ringkasan pendek perspektif skolastik ini korespondensi dasar dengan tawhid sejati mestinya terlihat jelas. Bukannya lalu tidak ada perbedaan di antara keduanya. Jelas sangat ada perselisihan pendapat yang mendalam dan tidak bisa diakurkan dari keduanya, dan bahkan sampai tingkat tertentu merupakan kontradiksi, anomali dan kekakuan yang melekat pada pemikiran skolastik, yang membuka peluang dan mendorong untuk perkembangannya lebih lanjut. Tetapi tidak diragukan bahwa pandangan dasar dunia dan pendekatan fundamental terhadap eksistensi dalam ajaran keesaan sejati sama dengan scholasticism abad pertengahan.
Kemudian datang Francis Bacon (dan penulis tidak maksudkan seperti [bacon, sejenis sosis yang terbuat dari daging babi, peny.] yang anda makan, walaupun yang penulis maksudkan ini sama sangat berbahayanya terhadap kesehatan spiritual umat manusia). Hal ini bukan berarti bahwa Bacon seorang diri yang mengubah cara pandang orang terhadap eksistensi, tetapi dalam setiap gerakan intelektual tentu ada pihak yang melambangkan dan mengungkapkannya; dan Francis Bacon sudah barang tentu adalah orang yang berperan khusus dan berarti dalam pengubahan perspektif manusia yang terjadi pada masa yang, menurut istilah sejarah, disebut sebagai Renaissance atau Pencerahan ini.
Sebelum masa ini kebenaran sebuah proposisi apa pun terletak pada apakah pernyataan tersebut sesuai atau tidak dengan data yang diberikan oleh kewenangan ilahi. Namun, sejak saat [Pencerahan] itu dan masa seterusnya ukuran kebenaran ialah apakah sebuah proposisi sesuai dengan nalar manusia atau tidak. Sebelum Renaissance manusia tidak menaruh kepedulian terhadap hal-hal di dalam diri mereka sendiri dan diri-pribadi individual maupun perilaku tetapi hanya terhadap cara mereka berhubungan dengan Keberadaan Total. Pada saat Renaissance manusia mulai mengingini satu orientasi baru terhadap kehidupan dan yang melibatkan mereka pada cara analisis dan penguasaan atas benda-benda yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Sebagaimana Bacon mengatakan:
“Oleh karena itu mereka yang menentukan tidak main terka dan main tebak tetapi menemukan dan mengetahui, tidak mengarang fabel-fabel dan cerita roman tentang dunia, tetapi memandang ke dalam dan membedah tabiat dunia nyata ini, harus berkonsultasi hanya pada benda-benda itu sendiri.”
Mungkin anda mengatakan hal ini sebagai sentimen-sentimen yang layak dikagumi, tetapi tunggu dan lihatlah apa implikasinya. Dunia nyata bagi manusia pra-Renaissance merupakan kenyataan kekuasaan ilahi. Dunia nyata Bacon merupakan kenyataan terbatas cerapan inderawi. Bagi Bacon, dan mereka yang mengekor di belakangnya, kebenaran menjadi semakin berarti kebenaran ilmiah. Lambat laun kebenaran ilmiah menjadi satu-satunya kebenaran yang sahih. Kebenaran metafisik , yang kadang kala tampak ganjil dengan pemahaman ilmiah yang terbatas, menjadi kian terpinggirkan dan akhirnya diabaikan sama sekali. Apa yang benar dalam tradisi abad Pertengahan semakin lama semakin ditolak.
Eksistensi, yang semula dianggap sebagai satu kesatuan, sebagai satu totalitas antara matra-matra spiritual dan material yang saling susup di antaranya, menjadi bercabang dua. Sejak saat ini ada kebenaran agama dan kebenaran sains, yang berada dalam dua ranah yang terpisah. Dan, jelas, bahwa keinginan Bacon adalah untuk memisahkan kebenaran agama dari kebenaran ilmiah demi kepentingan sains dan bukannya agama. Dia berkeinginan untuk selalu menjaga sains bersih dan murni dari agama. Semua ini terkemas dalam diktum terkenal Bacon yang pada saat yang sama merupakan penyangkalan terhadap tawhid dan sekaligus sumber dari seluruh kebenaran sains. Dia mengatakan: Tuhan bekerja dalam alam hanya melalui penyebab sekunder.
Kesesatan (fallacy) mendasar ini yang, secara metafisika, sama sekali tidak benar dan sekalipun dengan verifikasi empiriknya yang mengelabui, telah menjadi batu landasan bagi pandangan dunia ilmiah. Terjadilah pergeseran umum minat dari metafisika ke fisika, dari kontemplasi atas Ada (Being) menuju observasi dan analisis fenomena fisik. Paham scientism dengan sebutan filsafat kealaman (natural) menyatakan menggantikan teologi sebagai bentuk tertinggi pengetahuan. Sebagaimana M. Maritain katakan dalam bukunya tentang Thomas Aquinas, apa yang sebenarnya terjadi pada Renaissance ialah bahwa:
“Sains matematis atas dunia cerapan inderawi dan fenomenanya telah mendahului metafisika dan akal manusia mulai menyatakan independensinya dari Tuhan dan Ada (Being).”
Alih-alih merasa puas dengan jenis kebenaran yang konsisten dengan ajaran yang tersingkap secara ilahiah (wahyu), manusia mulai mengingini jenis kebenaran yang memungkinkan mereka mengukur, menimbang dan mengendalikan benda-benda di sekitar mereka. Hal ini, menurut kata-kata Bacon, untuk “memperluas lebih jauh batas-batas kekuasaan dan keagungan manusia.”
“Tuhan” makin lama makin menyusut dan akhirnya tidak lagi ada dalam pemahaman manusia dan menjadi, dalam istilah praktis, tidak relevan. Ini karena bata-batas sebab-musabab peritiwa alam diketepikan tanpa henti sampai akhirnya Dia, dalam padangan dunia ilmiah, semata-mata tidak lebih dari sebuah hipotesis ilmiah yang dapat diidentifikasi dengan mutlak.
Ilmu atau pengetahuan atas dasar wahyu mulai terlihat, kalau tidak sia-sia, paling sedikit tidak ayal lagi menjadi sekunder, dan sering sangat tidak mengenakkan. Sementara pengetahuan ilmiah, yang selama ini dianggap sekadar sebagai tambahan terhadap wahyu, menjadi standar tempat wahyu diuji. Jika fakta ilmiah tampak bertentangan dengan nas wahyu, maka wahyu ditolak demi kepentingan sains.
Pandangan Dualitas
Bersama-sama dengan munculnya ahli filsafat Perancis, Descartes, pemisahan antara agama dan sains oleh Bacon tersebut, antara dunia spiritual dan material, menjadi semakin mengeras dan meluas. Descartes menyatakan adanya dualisme dasar subjek/objek, ruh/materi. Manusia pun terdiri atas jiwa dan raga yang terpisah meskipun bagaimana sepastinya keduanya terhubung tidak pernah dipahamkan sepenuhnya. Manusia, menurut Descartes, merupakan jiwa yang berpikir (a thinking mind) yang terperangkap dalam satu jasad material yang memandang keluar ke sebuah dunia yang tidak dikenal. Descartes dengan tepat dapat disebut sebagai “bapak filsafat modern” karena hampir semua pemikir sesudahnya menjadikan pandangan atas eksistensi yang dirumuskannya sebagai titik awal.
Prestasi lain yang dielu-elukan dari Descartes ialah metode ilmiah yang terkenal itu, yang membentuk secara serupa dan sebangun dan membantu bentuk pandangan ilmiah yang tengah bangkit tentang eksistensi. Cara lama pada dasanya menganggap semua benda diyakini sebagai perwujudan kekuasan kreatif Ilahi. Tetapi titik awal Descartes merupakan skeptisisme lengkap berkenaan baik dengan opini-opini dan kepercayaan yang dicerap maupun data inderawi. Tidak ada yang dianggap benar sampai hal tersebut dibuktikan secara konklusif oleh pengamat sebagai sesuatu yang memang benar. Dia sendiri mengungkapnya:
“Jangan pernah menerima apa pun sebagai benar apa yang belum secara jelas saya ketahui memang benar. . . yang tidak menyusun apa pun lebih dari penilaian penulis yang tersaji pada pikiran yang begitu jelas dan gamblang sehingga menepis segala dasar keraguan.”
Dengan demikian dia membuat dirinya sendiri dan, dengan perluasan, nalar manusia pada umumnya, puncak ke-semaugue-an (ultimate arbiter) tentang apa yang benar atau tidak benar. Apa yang Descartes tinggalkan untuk kita adalah gambaran umat manusa sebagai satu jiwa yang terbungkus dalam satu jasad yang memandang sebagai subjek/pengamat pada sebuah dunia objektif/terpisah yang mengitarinya, yang harus dikendalikan dan melayani dirinya.
Dia mengatakan dalam risalah Discourse on the Method:
“Saya memiliki persepsi adanya kemungkinan untuk sampai pada pengetahuan yang sangat berguna dalam kehidupan. . . untuk menemukan satu pengetahuan praktis tentang gaya dan kerja api, air, bintang-bintang, langit-langit, dan semua jasad lain di sekitar kita. . . kita juga dapat menerapkan cara yang sama terhadap semua cara yang kita ambilpakai dan menyebabkan kita menjadi para penguasa dan pemilik alam.”
Manusia tidak hanya dipandang terpisah dari dunia material di luar dirinya, tapi pada dasarnya [harus dianggap] tidak dapat dipercayai dan semua data yang masuk harus menjalani penelisikan sebelum diakui sebagai layak dipercaya dan benar. Dia betul-betul merupakan ahli filsafat jaman baru sains, yang pada saat yang sama skeptisismenya menggerogoti cerapan inheren tentang pemeliharan Tuhan yang penuh kebaikan yang hadir sampai saat itu. Sehingga dari sebuah situasi ketika jiwa diberi preseden di atas materi kita bergerak bersama dengan Bacon menuju sebuah situasi dengan kebanggaan akan tempat yang diberikan pada materi, dan spiritual mengambil peran latar belakang.
Dengan Descartes, sisi spiritual eksistensi diceraikan dari sisi material dan dilenyapkan sampai jangkauan luar semesta. Keadaan ini merupakan satu langkah pendek menuju kesimpulan berdasar logika, tahap pamungkas proses tersebut, yang akan memisahkannya sama sekali dari kebersamaannya dengan yang spiritual. Posisi ini menemukan pengungkapannya dalam karya ahli filsafat Inggris, Thomas Hobbes.
Dengan kata-katanya sendiri Hobbes menyatakan:
“Semesta ini, yakni, segenap massa benda yang, bersifat jasadi, yakni, tubuh, dan yang memiliki aneka matra, misalnya panjang, lebar dan dalam; juga semua bagian tubuh serupa dengan tubuh, dan mempunyai matra-matra sejenis, dan konsekuensinya semua bagian semesta ini merupakan tubuh, dan apa yang bukan tubuh bukan bagian dari semesta; dan karena semesta ini semuanya, yang bukan merupakan bagian darinya bukan apa-apa alias tidak ada, dan konsekuennya tidak di mana pun.”
Dengan kata lain, apa yang dikatakan Hobbes ialah bahwa yang riel adalah eksistensi material dan apa pun yang bukan eksistensi material tidak riel. Pada faktanya apa yang Hobbes lakukan ialah memberi ekspresi pada apa yang dalam faktanya telah menjadi pandangan dominan tentang eksistensi yakni bahwa yang benar hanyalah yang dapat diverifikasi secara empirik. Keterbatasan cerapan indera manusia dalam kenyataannya menjadi keterbatasan eksistensi. Jika kita tidak dapat menimbangnya atau mengukurnya atau menetapkan waktunya atau dengan cara tertentu mengendalikannya, hal tersebut tidak riel. Hal ini berarti bahwa di masa Hobbes konsep mekanik-materialisme (mechanico-materialism) telah diterima sebagai satu catatan yang lengkap atas realitas.
Pandangan eksistensi ini, sudah pasti, memiliki implikasi-implikasi mendalam atas cara manusia dipersepsi. Dari menjadi seorang tawanan di dalam tubuh, manusia tidak sepenuhnya diidentifikasi melalui tubuh tersebut. Hobbes kembali menulis:
“Pada saat kita mengatakan bahwa ‘seorang manusia merupakan jasad hidup,’ kita maksudkan bukan bahwa ‘manusia’ tersebut merupakan satu hal, ‘jasad hidup’ hal yang lain, dan yang ‘merupakan’ atau ‘adalah’ hal yang ke-tiga; tetapi ‘manusia’ dan ‘jasad hidup’ merupakan hal yang sama.”
Dengan pandangan Hobbes matra spiritual eksistensi apakah pada manusia atau semesta, mikrokosmos atau makrokosmos, sama sekali tidak diakui. Eksistensi dunia spirit telah berhenti.
Hal ini juga mendatangkan implikasi-implikasi mendalam pada bidang sosial dan politik kehidupan manusia. Dalam pandangan lama kewenangan mutlak sinonim dengan Tuhan, dalam pandangan baru kewenangan ada di bumi, yang telah mencapai status mutlak. Status ini mernjadi kewenangan mutlak. Pemerintah, aparatus negara, undang-undang pertanahan menjadi ke-semau-gue-an mutlak perilaku manusia.
Hobbes mencela kemungkinan pengaruh spiritual “dan hal-hal lain yang berfungsi mengurangi ketergantungan subjek pada kekuasaan memerintah negara mereka.” Sehingga alih-alih menjadi hamba sebuah tatanan universal yang penuh kebaikan manusia direduksi dengan identifikasi sebagai subjek kewenangan terbatas waktu yang didikte oleh tempat dia hidup yang mutlak hanya berdasar dugaan kuat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar